Jumat, 11 Maret 2011

cerpen,,,

3 dari 4 Kompasianer menilai Menarik

Kami adalah sepasang tak bernyawa yang terpaksa hidup dan bicara untuk sekedar bercerita. Ya, kami benda mati, panjang, jarang berujung dan kadang-kadang membosankan. Kami kadang-kadang hitam legam dibalur oli, sering juga patah-bersambung. Tak pernah berdiri-atau mungkin bisa dikatakan kami selalu terbaring pasrah berlandaskan kayu-kayu (mungkin kemarin sudah berganti dengan pilar-pilar beton. Kami tak punya atap untuk sekedar berteduh ketika hujan kejam turun atau matahari sedang giat-giatnya mengeringkan jemuran ibu-ibu dibelakang stasiun. Pengangguran, itu yang dikatakan teman-teman kami. Ah, peduli setan.

Sebut saja kami El dan Er. Begitulah ketika aku bertemu dan berkenalan tempo hari di Jatinegara. El mirip sekali dengan Er. Aku sempat menyangka mereka saudara kembar. Er menolak disebut mempunyai hubungan keluarga dengan El. Aku tertawa melihat mereka yang sudah sekian lama berdua tak terpisahkan dan begitu dekat namun masih saja bertengkar hal-hal yang sepele. Hari itu senja sudah cukup gelap. Kami bertiga masih bercakap-cakap dengan sesekali disela beberapa kereta listrik dan gerbong-gerbong ke arah timur.

El memulai bercerita, dia sendiri sudah lupa kapan dia lahir dan kemana orang tuanya. Aku melirik Er, dia pun Cuma berkata “Idem”. Hahaha. El tahu-tahu sudah sekurus itu, berat badannya tak bisa dibilang ideal, begitu juga ketika kutaksir diam-diam berat si Er. Ah, bagaimanapun juga puskesmas menjadi tempat yang asing buat kedua teman baruku ini. Sesekali aku melempari Er yang cukup pendiam dengan kerikil. Ia berteriak kecil.

Cerita mengalir kembali, El bangun lebih pagi daripada Er. Walaupun Er menyangkal bahwa selisih bangun paginya hanya tak lebih dari semenit. Tidur menjadi barang langka bagi mereka. Terlebih kemarin ketika musim lebaran tiba. Seolah mereka tak pernah tidur. Tertindih menjadi hobi mereka mau tak mau. Entah sejak kapan juga mereka sudah lupa.

Er antusias sekali ketika bercerita tentang hawa sejuk di daerah Jawa Timur sana. Dikanan kiri mereka adalah hutan. Ah, pokoknya menyenangkan ketika kami sadar kami terbangun di daerah itu, kata Er. El menimpali memang indah tapi sama saja, kadang ada orang iseng yang memukul mereka dengan linggis dan pernah kejadian mereka digergaji hidup-hidup. Untung saja ada petugas baik hati yang menyelamatkan mereka.

Namun El menjadi sangat sedih ketika ingat bagaimana dia terbangun dan sadar-sadar telah terinjak sepuluh gerbong di suatu pagi di daerah Kebumen. Dan parahnya, Er hanya telungkup disebelahnya, diam tak bergerak. Ia khawatir sekali saat itu. Dan ingat betul El saat itu, baru setelah menjelang pukul 4 sore, Er tertawa akibat dikencingi kucing liar di stasiun Kebumen. Er tersenyum kecut mendengar cerita itu. Kemudian membalasnya dengan cerita bagaimana El ketakutan tiap sadar terbangun di terowongan antara Bandung dan Jakarta. Mereka pun ribut sendiri, dan obrolan kami sekali lagi dipotong oleh Kereta Eksekutif jurusan Jatinegara-Surabaya. El dan Er berteriak dengan keras. Hahahaha. Aku tertawa.

Kemudian obrolan kami menjadi serius. Aku salah bertanya dan entah kenapa El tiba-tiba berbisik kepadaku. Dia suka Er. Aku terkejut. Kemudian El meneruskan, entah sampai kapan mereka bisa sedekat ini. Dan kenapa waktu mereka berdua banyak dihabiskan dalam diam dan tidur panjang. Er nampak curiga dengan apa yang El dan aku bicarakan. Aku pun cuma tersenyum ketika kawanku datang. Aku pamit dengan El dan Er yang sampai aku pergipun, aku masih belum bisa membedakan keduanya.

Dalam angkot, aku baru sadar. Kadang kita sering melupakan siapa saja di dekat kita dan baru sadar kalau mereka selalu ada buat kita. Ah El dan Er. Semoga kalian tetap sabar dilindas roda-roda gerbong dan semoga kalian bisa menjadi pasangan paling romantis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar